Menghadapi Tantrum Pada Anak

Image

Pernahkah Anda mengalami atau menyaksikan balita usia pra sekolah yang mengekspresikan kemarahan secara berlebihan? Selain berkata tidak terhadap hal-hal yang seharusnya dilakukan, kemarahan ini biasanya disertai dengan aksi memukul, menendang, meronta, berguling-guling, dan bahkan menjerit sejadi-jadinya. Hal ini biasanya terjadi pada usia 3 tahunan. Apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana menghadapinya? Apakah semua anak mengalami hal seperti ini? Sehatkah atau normalkah gejala ini?

Mengenali Tantrum
Krisis perkembangan yang pertama terjadi dalam development milestone seorang anak, biasanya terjadi pada usia sekitar tiga tahun. Pada kasus-kasus tertentu, batita usia 2,5 tahun pun sudah ada yang menunjukkan gejala ini. Pada tahap ini, anak mengalami alter ego untuk pertama kalinya dan memasuki masa menolak, serta menentang. Ini adalah kondisi normal yang harus dilalui dalam perkembangan.

Persoalannya adalah, gejala-gejala yang menyertai perkembangan emosional ini seringkali membuat orang tua kalang kabut. Stimulannya bisa jadi perkara sederhana, misalnya minta cokelat namun tidak diijinkan atau menolak untuk berangkat sekolah yag disertai dengan aksi fisik yang dramatis seperti yang dijabarkan diatas. Ini adalah tantrum, atau kemarahan yang meledak, berlebihan yang disebabkan oleh berbagai faktor dari kelelahan (jasmani dan rohani), kondisi lapar, atau haus. Tantrum bisa muncul dengan lebih hebat di usia 5 tahunan apabila pada usia 3 tahunan tidak mendapatkan perlakuan yang tepat.

Ketika Anak Memberontak
Kabar baiknya adalah, ketika anak memberontak, ia menunjukkan kemandirian dalam bersikap dan berpendapat. Benar atau salahnya? Itu masih dapat dievaluasi bersama. Namun, ketika sikap memberontak dan menentang ini merupakan ekspresi keengganan untuk melakukan atau tidak melakukan kesepakatan bersama, ini perlu mendapat perhatian.

Tergantung tendensi kepribadiannya, wujud pemberontakan anak berbeda-beda. Bagi anak yang ekstrovert, tantrum yang berkepanjangan dan tidak dapat dikendalikan dapat menjadi sebuah tanda. Bagi anak yang cenderung diam, menentang dapat diwujudkan dengan sikap mogok dan tak bergeming. Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua dapak kondisi ini?

• Jangan terpancing untuk menjadi reaktif terhadap pemberontakan yang ditunjukkan. Tetap tenang dan kendalikan diri. Amat penting untuk menjaga kekompakan ayah dan bunda dalam sikap ini, sehingga tidak terjadi dualisme prinsip dalam menetapkan aturan atau batasan terhadap anak.

• Tunggu sampai anak tenang, terlebih apabila tantrum muncul. Jika hal ini terjadi di sekolah, bekerja samalah dengan guru kelasnya. Apabila muncul di tempat umum, segera amankan anak pada posisi yang tidak menarik perhatian dan tidak membahayakan dan tunggu sampai tenang. Tidak ada faedahnya untuk memarahi atau menasehati dalam kondisi emotional burst (ledakan emosi) seperti ini.

• Berkomunikasilah dengan tenang, tekankan pada anak untuk berbicara daripada menjerit, berkata-kata daripada memukul dan menendang. Perilaku menjerit, memukul dan menendang tidak dapat diterima karena akan menyakiti diri sendiri, dan selama anak belum mampu mengendalikan perilaku tersebut, tetaplah teguh dengan prinsip Anda. Anak hanya membutuhkan sinyal yang konsisten.

 
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s